Energi Terbarukan

Direktur Eksekutif Institute for Essential Serviss Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, peningkatan energi terbarukan (renewable energy) perlu mendapatkan stimulan stimulan dalam kerangka kritis wabah Corona Covid-19 sekarang ini. Menurut dia, itu menjadi salah satunya taktik perbaikan perekonomian yang efisien saat wabah virus corona.

Fabby berkaca pengalaman dari beberapa negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Uni Eropa pada kritis ekonomi masa 2008. Beberapa negara itu memberi stimulan dan stimulan ke infrastruktur negara bersih.

“China misalkan, memberi stimulan untuk peningkatan kereta, mass transportation. Ujungnya, kecuali memotong waktu perjalanan ia memotong konsumsi BBM. Kita ketahui, China salah satunya pengimpor BBM paling besar,” katanya dalam sesion teleconference, Senin (30/11/2020).

“Kita saksikan European Union memberi stimulan berbentuk feed in biaya untuk peningkatan solar. Dan sekarang ini beberapa negara di EU cukup sukses meningkatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS),” ia menambah.

Pokoknya, dia menjelaskan, hasil dari stimulan itu dapat disaksikan jika stimulan yang diberi pada peningkatan energi bersih/terbarukan bisa memberi tingkat pengembalian ekonomi atau investasi yang semakin tinggi. Disamping itu, pemberian stimulan itu bisa juga menambahkan lapangan pekerjaan.

Oleh karenanya, pemberian stimulan pada bidang energi terbarukan dikatakannya penting untuk keadaan di Indonesia sekarang ini. Fabby menyaksikan ini selaku satu peluang, khususnya sebab Indonesia punyai sasaran pada 2025 pengin capai 23 % energi terbarukan.

Menurut perhitungannya, untuk capai sasaran itu, karena itu dari periode waktu 2020-2025 dibutuhkan tambahan sekurang-kurangnya 14-15 gigawatt (GW) kemampuan pembangkitan energi baru. Dan ini memerlukan ivestasi seputar USD 5-6 miliar per tahun.

“Berarti, jika diperlukan 15 GW untuk capai sasaran 23 % saja, karena itu setiap tahun diperlukan 2-3 GW. Jika kita pengin capai posisi dekarbonisasi atau alignment dengan Paris Agreement, karena itu sesungguhnya pada 2050 kita perlu tambahkan pembangunan energi terbarukan sampai capai 70 % dari keseluruhan kemampuan pembangkit listrik,” tuturnya.

Updated: January 12, 2021 — 4:26 am

Leave a Reply

Your email address will not be published.